Selasa, 24 Januari 2012

Berdikari dengan IPTEK


Geliat anak SMK dengan produk mobilnya menuai pro dan krontra. Apalagi setelah mobil itu dipakai oleh seorang wali kota. Keputusan Wali Kota Solo Joko Widodo mengganti mobil dinasnya, Toyota Camry, dengan mobil Kiat Esemka buatan siswa SMKN 2 Solo menjadi buah bibir tak hanya di wilayah Jawa Tengah, tapi juga di tingkat nasional. Meski keputusan itu dicela oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo karena mobil rakitan tersebut belum mengantongi izin kelayakan dan keselamatan. (http://indonesiaproud.wordpress.com/11012012).
Sesungguhnya masih banyak lagi SMK yang mampu merakit mobil, seperti SMK Surakarta, SMK Muhammadiyah II Borobudur Magelang, SMK trucuk, dan SMKN Malang. Selain itu siswa SMK di negeri ini juga mampu merakit  pesawat ringan, sepeda motor, televisi, laptop, dsb.
Pada level yang lebih tinggi, ada sejumlah hasil karya anak negeri yang cukup membanggakan. PT PAL mampu memproduksi salah satu kapal kapal perang jenis LPD yang diberi nama KRI Banjarmasin-592. Juru bicara TNI, Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul mengatakan, kandungan lokal pada kapal itu mencapai 40-60 persen, namun mesin didapat dari Amerika Serikat. (www.antaranews.com/16012011). Sementara itu, PT Pindad (Perindustrian Angkatan Darat) mampu memproduksi Panser Anoa. Anoa adalah kendaraan tempur pengangkut personel serba guna. Kendaraan lapis baja itu memiliki sistem penggerak roda simetris yang dirancang khusus untuk TNI AD, khususnya kavaleri. Diproduksi sejak 2003, panser itu sudah dipakai pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon.
Menurut catatan, selain Malaysia, Timor Leste, Nepal, dan Afrika Selatan juga sudah memesan panser yang dirancang dan dibangun sepenuhnya oleh ahli-ahli Indonesia. Pesanan terbanyak datang dari Kerajaan Oman sebanyak 200 unit. Sementara, Nepal memesan 30 unit. Sampai kini, Chile dan Portugal masih melakukan negosiasi pemesanan. Dengan kehadiran Anoa, PT Pindad telah mengukuhkan bahwa Indonesia sebagai penghasil panser terbaik di kawasan Asia Tenggara. Namun sayangnya, mesin dan transmisi anoa masih menggunakan produk Renault dari Prancis.
Dan yang paling terkenal tentu saja PT. DI, yang mampu memproduksi pesawat NC 212 dan CN 235, pesawat berbaling – baling terbaik di kelasnya sehingga Pemerintah Korsel-pun menjadikannya sebagai salah satu pesawat kepresidenan. Pesawat ini merupakan hasil rancangan anak – anak nusantara, namun mesin masih mengandalkan produsen pesawat Cassa, Spanyol.
Dari fakta diatas, ternyata anak negeri ini  cukup kreatif dan inovatif dalam urusan rancang bangun berteknologi tinggi. Banyak produk berteknologi yang mampu dibuat dengan local content mencapai 80%, adapun yang 20% masih diimport. Sayangnya, meski cuma 20%, produk import tersebut sangat urgen karena berkaitan dengan mesin penggerak utama dari produk-produk tersebut. Artinya, negeri ini memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap produk asing. Apalah artinya sepeda motor, mobil, kapal hingga pesawat jika tidak ada mesinnya. Kebutuhan mesin dan peralatan untuk industri di dalam negeri masih tergantung pada impor. Berdasarkan data Departemen Perindustrian, impor mesin dan peralatan mencapai sekitar 7,09 miliar dolar AS pada 2005 atau naik dibanding 2004 yang mencapai 5,52 miliar dolar AS. Sementara pada 2003 impor mencapai 3,77 miliar dolar AS. (www.suarakarya-online.com/05122006).
Lalu akankah hal ini bisa mengantarkan negeri kita ini menjadi Negara yang mampu bersaing dengan Negara lain terutama negara maju? Bagaimana sikap kita sebagai kaum muslimin tentang hal ini? Adakah aturan dalam Islam tentang  industri?

Perkembangan Tehnologi Indonesia 
Bangsa ini hampir 75 tahun merdeka, tetapi dalam hal teknologi sebagai penggerak ekonomi, rasanya masih terdengar awam. Masyarakat Jepang yang usianya hampir sama dengan Indonesia setelah dibom atom pada tahun 1945 mampu bangkit dengan cepat. China dan Korea Selatan sudah menyalip indonesia baik dibidang ekonomi maupun teknologi.  Kita lihat  jarum masih buatan china, ballpoint pilot yang kita gunakan adalah buatan Jepang.
Perkembangan tehnologi sangat dipengaruhi oleh sikap  pemerintah. Jika ada dukungan penuh dari pemerintah, maka anak-anak bangsa tidak hanya mampu sekedar merakit, tetapi akan sanggup pula dalam membuat mesinnya sendiri. Tetapi, jika pemerintahnya tidak mendukung, maka sampai kapanpun negeri ini akan bergantung pada Negara-negera lain sebagai produsen pembuatan mesin. Alhasil, Indonesia hanya sebagai konsumen dari Negara tersebut bahkan Negara lain akan mudah menekan Indonesia dengan ketentuan-ketentuan tertentu demi kepentingan Negara produsen sendiri.
Dampak selanjutnya, anak-anak bangsa yang  memiliki keahlian di bidang teknologi permesinan ini berpotensi tidak terpakai. Sebab, fakta lain berbicara, bahwa pemerintah Indonesia lebih senang membeli produk jadi dari luar negeri daripada membiayai anak bangsa untuk menjadi seorang yang ahli dibidangnya. Satu contoh, hasil rakitan siswa SMK 12 Jakarta,  mampu merakit pesawat dengan biaya 1 miliyar dengan mesin impor dari Australia. Bila membeli pesawat sejenis dari Australia harganya 4 Miliyar. Sangat jauh perbandingan harga dan uang yang dikeluarkan. Apalagi jika mesinnya dapat dibuat sendiri oleh Indonesia, tentu harganya akan jauh lebih murah lagi.
Keengganan untuk memproduksi barang terutama barang-barang berteknologi tinggi di dalam negeri, juga dipicu oleh rasa kepercayaan yang lebih pada produk-produk asing. Menganggap bahwa produk luar negeri lebih berkualitas daripada produk dalam negeri, lebih kuat, lebih baik, lebih bagus, mutu terjamin sehingga merasa lebih “PD” jika menggunakan produksi luar negeri. Sebuah sikap under confidence khas masyarakat Negara dunia ketiga sebagai hasil dari ghazwul fikr Negara – Negara industri.
Kondisi semacam itu menjadikan negeri ini tidak bisa meningkatkan kemampuan dan intelektulitas anak bangsa untuk meraih prestasi di bidang industri.  Padahal bidang ini sangat berkaitan dengan kemandirian suatu ummat. Sebenarnya jumlah orang-orang cerdas di bidang industri di negeri ini sangatlah banyak, namun karena tidak dikelola dengan baik, hanya menjadi orang yang cerdas di otak saja dan tidak teraplikasi dalam karya nyata.
Harus diingat pula, bahwa biaya untuk menopang industri berat ini memang butuh biaya besar. Oleh karena itu tidak mungkin individu apalagi anak sekolah mampu membiayai sendiri. Sehingga dana-dana pemerintah harus disalurkan untuk megembangkan teknologi ini. Inilah yang menunjukkan keseriusan pemerintah, kalau tidak, tidak mungkin Negara ini akan maju (Baca: bangkit).

Revolusi Industri
Jika suatu Negara sudah berdiri maka hal yang tidak boleh dilupakan adalah berfikir politik perindustriannya. Politik perindustrian yang benar adalah melalui revolusi industri, bukan melalui industri bertahap. Industri bertahap adalah penyesatan politik perindustrian yang dipropagandakan kapitalis barat sebagai upaya mencegah kebangkitan Negara sekaligus mempertahankan ketergantungannya pada Negara lain. Industri hanya akan maju jika dimulai dengan revolusi industri dari pembuatan industri berat dengan membuat pabrik-pabrik yang mampu memproduksi peralatan-peralatan.
Contohnya adalah Rusia. Pasca Perang Dunia II Rusia belum secanggih Amerika. Rusia belum memiliki senjata nuklir. Namun Rusia hanya butuh waktu sepuluh tahun untuk mampu bersaing dengan Amerika dalam persenjataan nuklirnya pada perang dingin waktu itu. Kenapa Rusia bisa begitu? Karena Rusia melakukan revolusi industri dengan fokus terhadap industri berat terlebih dahulu. Kebijakan ini menjadi titik tolak kebangkitan Rusia.
Buku-buku ekonomi yang ada kebanyakan mengajarkan bagaimana suatu Negara harus melalui tahapan-tahapan sehingga sampai pada kemajuan industri. Negara dikelompokkan menjadi tiga yaitu kelompok pertama, negara  yang menghasilkan bahan mentah dan tidak mengindustrikannya disebut negara terbelakang. Kedua, Negara yang berkembang kearah industri disebut Negara berkembang. Ketiga, Negara  yang mengindustrikan bahan-bahan mentah disebut Negara maju. Sesungguhnya ini adalah bagian dari ghazwul fikr orang – orang kafir barat karena sesungguhnya Negara – Negara barat tidak pernah melalui tahapan – tahapan tersebut untuk menjadi Negara Industri. Ini adalah rancangan para kapitalis agar Negara-negara berkembang dan terbelakang tetap pada statusnya dan tidak akan menjadi Negara yang mandiri.
Adapun pendapat  yang menyatakan bahwa pembuatan pabrik peralatan memerlukan adanya ahli-ahli industri maka pendapat ini tidak sepenuhnya benar, sebab Negara-negara Eropa timur dan barat mempunyai kelebihan tenaga ahli. Para  ahli ini dapat didatangkan untuk mengajarkan ilmunya atau mengirim anak – anak kaum muslimin untuk belajar IPTEK (bukan ilmu humaniora) di Negara – Negara industri. Sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan dengan mengutus dua orang shahabatnya ke negeri Yaman untuk mempelajari teknologi pembuatan tank kayu pelempar batu (dababah/manjanik).
Oleh karena itu janganlah kita puas karena sudah bisa merakit akan tetapi kita harus bisa membuat sendiri mesinnya, agar tidak tergantung pada Negara lain. Jika negeri ini mengidentifikasi diri sebagai negeri maritim maka selayaknya jika kita memiliki industri berat yang mampu memproduksi mesin tekhnologi bidang kelautan secara mandiri. Bila bangsa ini mengenalkan diri sebagai bangsa agraris maka seharusnya memiliki industri berat yang memproduksi mesin – mesin pertanian sendiri. Dan tentu saja sebuah Negara harus memiliki industri persenjataan yang mandiri guna menopang produksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) bagi militernya.

Kebangkitan Islam dan kaum muslimin
Kebangkitan IPTEK bukanlah thariqah (metode) menuju kebangkitan Islam dan kaum muslimin. Akan tetapi, ketika Negara sudah tegak, maka politik peindustrian dengan memulai penerapan industri berat terlebih dahulu adalah kunci pokok untuk mengokohkan kekuatan Negara. Sebab, keamanan Negara harus ada di tangan kaum muslimin sendiri. Oleh karena itu, pembuatan pabrik senjata dan alat berat lainnya harus dikuasai kaum muslimin sendiri
Kaum muslimin sekarang ini telah merasa semakin penting mengubah cara hidup mereka  untuk memisahkan diri dari penjajah. Oleh karena itu, politik perindustrian harus menjadikan Negara sebagai Negara industri agar ummat Islam tidak perlu bergantung pada pihak manapun dan tidak akan dikuasai oleh siapapun. Karena Allah tidak suka kepada kaum muslimin yang memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum muslimin. Allah SWT  berfirman : “Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang Mukmin.” [TQS An Nisaa’ (4):141].
 Wallahu a’lamu bish-showab

0 komentar:

Posting Komentar