Sudah menjadi pemahaman umum bagi umat Islam bahwa menipu, berbohong, usil yang menyakitkan hati atau fisik orang lain, hukumnya adalah haram. Akan tetapi, tidak sedikit orang (termasuk sebagian umat Islam) yang melegalkan satu hari, dimana berbohong, menipu dan menjahili orang lain, diperbolehkan. Hari tersebut biasanya disebut dengan Hari April Mop.
April Mop dikenal juga dengan istilah April Fools’ Day, diperingati tepat tanggal 1 April setiap tahun. Pada hari itu, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain. Kehadirannya ditandai dengan aksi tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap keluarga, teman bahkan tetangga dengan tujuan mempermalukan orang-orang yang mudah ditipu.
Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day yang sudah jelas keburukannya, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat. Sangat disayangkan, masyarakat dengan mudahnya meniru kebudayaan Barat ini tanpa menilai terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya, mendatangkan ridho Allah atau tidak. (Wikipedia //Indonesia)
SEJARAH APRIL MOP
Perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kekonyolan, sesungguhnya berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan! Terlepas dari versi sejarah yang berbeda, yang pasti dalam salah satu versinya disebutkan bahwa April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah berdarah Muslim Spanyol di tahun 1487-an, atau bertepatan dengan 892 H. Sejak dideklarasikannya Islam pada abad ke- 8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad di negeri tersebut. Setelah beberapa tahun, bahkan beberapa abad berlalu Spanyol di bawah syari’at Islam. Namun musuh-musuh Islam yang ada disekitar Spanyol, terus menerus berusaha menggempur benteng syari’at Islam yang kuat mewarnai sisi kehidupan masyarakat Spanyol waktu itu.
Pada perkembangannya, Kota-kota Islam di Spanyol seperti Zaragoza dan Leon di wilayah Utara, Vigo dan Forto di wilayah Timur, Valencia di wilayah Barat, Lisabon dan Cordoba di Selatan serta Madrid di pusat kota dan Granada sebagai kota pelabuhan berhasil dikuasai tentara Salib. Umat Islam yang tersisa dari peperangan itu dijanjikan kebebasan jika meninggalkan Spanyol dengan kapal yang disiapkan di pelabuhan Granada. Tentara Salib itu menjanjikan keselamatan dan memperbolehkan umat Islam menaiki kapal, jika mereka meninggalkan Spanyol berikut persenjataan mereka.
Di saat ribuan umat Islam sudah berkumpul di pelabuhan dan meletakan senjata karena percaya dengan garansi pihak nasrani, ternyata kapal yang tadinya sandar di pelabuhan langsung dibakar dan kaum Muslim dibantai habis sehingga air laut menjadi merah karena darah. Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia barat setiap tanggal 1 April sebagai April Mop atau The April’s Fool Day. (Wikipedia //Indonesia)
Namun demikian sebagian umat Islam masih ada yang merayakan April Mop, disaat sebagian besar umat Islam lainnya menolak merayakannya dengan alasan karena sejarah kelam lahirnya April Mop. Apakah benar kita harus menolak peringatan April Mop semata-mata karena terkait sejarah lahirnya April Mop yang meninggalkan luka mendalam bagi umat Islam? Atau ada alasan lain sehingga kita harus menolak peringatan April Mop?
SEJARAH DALAM PANDANGAN ISLAM
Sejarah atau History dalam bahasa Inggris, biasanya menceritakan kisah suatu hal atau kisah hidup seseorang. Sejarah senantiasa menjadi The X-Files, sebuah misteri besar. Seringkali sejarah muncul dalam berbagai versi dan disetiap versi senantiasa ada sisi kontroversi. Semisal, Musthafa Kemal oleh kaum orientalis dan sekuleris dianggap sebagai pahlawan pembaharu Republik Turki, akan tetapi dalam sejarah Islam, justru Musthafa Kemal dianggap sebagai tokoh yang meruntuhkan syariat Islam di Turki, karena dialah yang meruntuhkan kekhilafahan Islam terakhir di turki (Utsmaniyyah/ottoman).
Pun demikian sejarah tentang tokoh-tokoh dunia, termasuk sejarah tentang pemimpin-pemimpin negeri ini, seringkali kabur oleh goresan tinta penguasa. Sejarah mudah berubah menurut versi pihak-pihak yang berkepentingan atas hitam-putih dan merah-biru atas warna sejarah tersebut. Ada kalanya peristiwa tersebut benar – benar sebuah history, namun tidak jarang hanyalah his story. Klaim kebenaran penulisan sejarah sering kali diperdebatkan karena proses penukilan (periwayatan) cerita dari pelaku sejarah dan saksi hidup tidak memiliki standar yang baku sebagaimana proses periwayatan sejarah hidup rasul (sirah).
Oleh karena itu menurut Abdurrahman AM dan Awliyaul Muttaqien dalam Muhadlarah wal halaqah jilid II, menyatakan sejarah tidak boleh menjadi landasan dalam beramal karena sejarah bukanlah salah satu sumber hukum dalam agama Islam. Sejarah juga tidak bisa menjadi landasan kebangkitan karena cerita di masa lalu bukalah gambaran di masa depan. Sungguh sebuah kesalahan fatal persangkaan sebagian orang tentang terulangnya suatu peristiwa di masa lalu dalam periode tertentu di hari depan (de javu).
Sejarah cukuplah menjadi sekedar berita belaka, dimana dengan informasi tersebut diambil ibrah (pelajaran). Jika ada cerita baik, seperti kisah kegemilangan Islam di masa yang lalu, atau keberhasilan dakwah para ulama yang tergabung dalam wali sanga melalui dakwah cultural maupun structural, maka hendaknya dimasa depan dakwah ummat harus bisa lebih baik lagi. Namun jika ada cerita kelam, seperti pembantaian di Granada, atau pertikaian kekuasaan diantara pemimpin umat, maka hendaknya hal itu jangan terulang lagi. Sebab ummat yang beruntung adalah ummat yang hari esok lebih baik daripada hari kemarin.
SIRAH NABAWIYAH DAN SIRAH SAHABAT
Sejarah ummat Islam dimulai sejak kehadiran Rasulullah Muhammad SAW, kemudian berlanjut masa sahabat, para tabi’in, tabiit tabiiin dan masa generasi berikutnya. Pada awalnya penulisan tarikh (Sejarah) Islam dimulai sebagaimana penyusunan sirah, yakni melalaui periwayatan lisan. Generasi pertama yang menyaksikan atau terlibat dari berbagai peristiwa meriwayatkan kepada generasi berikutnya. Setelah itu dilakukan pembukuan terhadap peristiwa tersebut. Mereka menelusuri tarikh persis seperti menelusuri sirah dari segi periwayatan terhadap berita – berita. Melalui metode inilah lahir kitab – kitab besar,seperti tarikh ath thabari.
Namun bagian terpenting dalam penulisan sejarah (tarikh) Islam adalah memperhatikan sejarah hidup Rasulullah Muhammad SAW (Sirah). Berita tentang kelahiran, perkembangan dakwahnya, kisah jihad hingga wafatnya beliau adalah bagian dari sejarah Islam. Sirah dikumpulkan dari banyak hadits berdasarkan ilmu dan sistematika tertentu. Sehingga validitas kebenaran sirah telah digaransi. Dengan demikian, memperhatikan sirah dan mengikutinya adalah perkara syar’i karena sunnah adalah bagian dari sumber hukum Islam.
Sebagai seorang muslim, tentu kita menjadikan Rasulullah saw sebagai tauladan terbaik dalam hidup kita. “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu” (TQS. Al-Ahzab 21). Allah pun telah memerintahkan umat-NYA untuk menteladani Rasulullah saw : “Apa yang dibawa oleh rasul kepadamu maka ambillah,. Dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah.” (TQS. Al_Hasyr 7). Rasulullah saw tidak pernah sekalipun berbicara atau berbuat sesuai dengan hawa nafsu beliau, akan tetapi senantiasa dituntun oleh Allah swt dengan wahyu-wahyu-NYA yang berupa al-Qur’an dan al-Hadits. Sebagaimana dalam firman Allah swt yang artinya : “Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” (TQS.al-Ahqaf 9).
Berdasarkan ayat-ayat di atas dapat kita ambil kesimpulan, bahwa sudah pasti dalam seluruh perjalanan hidup Rasulullah saw berisi dan terpancar aturan/hukum yang telah diajarkan Allah swt kepada Rasulullah saw. Sehingga, ketika kita membaca, mempelajari dan mengamati sirah/perjalanan hidup Rasulullah saw, hakekatnya tidak sekedar membaca atau mempelajari sejarah hidup seorang manusia biasa, seperti kita mempelajari sejarah hidup tokoh-tokoh dunia. Ketika membaca dan mempelajari perjalanan hidup Rasulullah saw, sesungguhnya kita juga mempelajari hukum-hukum Allah swt.
Selain sirah nabawiyah, tarikh tentang sahabat juga merupakan pelajaran sejarah yang merupakan materi tasyri’. Sejarah hidup sahabat (Sirah shahabiyyah) banyak menceritakan tentang urusan jihad sahabat, muamalah dengan kafir dzinmi, tanah usrriyyah dan kharajiyyah, keputusan Abu Bakar memerangi orang – orang munafik yang menolak membayar zakat, sholat tarawih masa khalifah umar, pembukuan al Qur’an masa Utsman, keadilan hukum yang tanpa pandang bulu di masa Ali, dsb. Sesungguhnya kisah sahabt dapat menjadi sumber hukum karena kesepakatan sahabat (Ijma) adalah satu dari empat sumber hukum Islam.
Sejarah sahabat, khususnya Khulafa’ur Rasyidin, dianjurkan bagi kita untuk membaca dan mempelajarinya. “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah” (TQS. At-Taubah 100).
Itulah salah satu pujian Allah swt terhadap para sahabat Rasulullah saw. Rasulpun seringkali memuji para sahabat atas kejujuran dan kelurusan iman mereka. “Dua pembantuku dari (penduduk) langit adalah jibril dan Mikail, sedangkan dari (penduduk) bumi ini adalah Abu Bakar dan Umar.” (HR. al-Hakim dan Tirmidzi dari Abi Sa’id al-Khudri).
Dari nash-nash di atas menunjukkan bahwa para sahabat adalah orang-orang terpercaya yang benar-benar mampu dan mengerti Islam. Hal ini karena mereka senantiasa hidup bersama Rasulullah saw dalam aktivitas sehari-hari, sehingga mereka mampu belajar Islam secara langsung dari Rasulullah saw, dan dalam pelaksanaannya senantiasa dalam bimbingan langsung dari Rasulullah saw. Kecil sekali kemungkinan mereka berbuat menyimpang dari aturan Islam.
Maka, amal rasulullah saw dan sahabatnya merupakan teladan amal bagi ummat Islam. Adapun kisah – kisah kehidupan generasi umat Islam pada masa setelah sahabat, cukuplah sekedar menjadi pengetahuan bagi ummat untuk diambil hikmahnya dan bukan menjadi sumber hukum ataupun teladan dalam beramal.
Demikianlah sumber-sumber hukum Islam yang harus dipelajari oleh kaum muslimin agar benar dalam berpikir dan beramal. Karena sesungguhnya landasan berpikir dan beramal dari umat Islam adalah aqidah dan hukum Islam, bukan yang lainnya. Begitu juga hendaknya umat Islam dalam beramal tidak hanya berdasar romantisme sejarah masa lalu, apabila sejarah dinilai baik oleh akal manusia maka dia akan beramal, sebaliknya, jika sejarah itu tidak mengenakkan akal manusia maka amal tersebut dia tinggalkan.
Sama halnya bagi kita dalam menyikapi Hari April Mop yang jatuh dan diperingati sebagian orang setiap tanggal 1 April. Kita menolak dan tidak memperingatinya bukan semata-mata terkait pembantaian muslim Spanyol oleh kaum kafir, akan tetapi kita menolaknya karena aktivitas-aktivitas April Mop bertentangan dengan aqidah dan hukum Islam. Berbohong/menipu, menyakiti saudara-teman atau keluarga adalah perbuatan yang dicela syari’at Islam.
Sedangkan terkait sejarah yang menyebutkan pembantaian umat Islam Spanyol oleh kaum kafir, hendaknya hal itu bisa kita ambil pelajaran bahwa sesungguhnya kaum kafir memang tidak pernah rela apabila Islam tegak di muka bumi ini. “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu, kecuali kamu mengikuti agama dan jalan hidup mereka.” (TQS. Al-Baqoroh 120).
Saatnya umat Islam kembali kepada Islam secara kaffah dengan cara mempelajari dan mengamalkan Islam yang kamilan wa syamilan (sempurna dan menyeluruh) berdasarkan Al Qu’an, sunnah rasul, ijma sahabat dan qias.
Wallahu ‘alam bi showab.












0 komentar:
Posting Komentar