Kenaikan harga minyak dunia yang sempat mencapai US$ 116 per barel, salah satunya dipicu oleh krisis di selat hormuz. Kekhawatiran para pedagang minyak terhadap kemungkinan terjadinya perang antara Iran dan Israel plus Amerika membuat harga minyak menjadi tidak stabil.
Krisis di selat hormuz terjadi sebagai implikasi perselisihan yang berkaitan dengan kegiatan pengayaan uranium oleh pihak Iran. Mantan kepala intelejen israel, Mosaad, Meir Dagan menyatakan, bahwa Iran telah memperkaya uranium ke tingkat 90 %. Badan intelejen barat menuduh Iran telah berhasil merakit senjatan nuklir atas perintah langsung Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khameini.
Kondisi ini melahirkan kekhawatiran barat akan lahirnya sebuah Negara nuklir baru yang akan bersaing dengan Israel sebagai satu – satunya pemilik senjata nuklir di kawasan timur tengah. Oleh karena itu pihak barat terus menekan Iran agar menghentikan kegiatan pengayaan uranium, bahkan Israel mempertimbangkan penggunaan kekuatan militer untuk menghentikan kegiatan nuklir Iran.
Sementara pihak Iran meyatakan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki fasilitas untuk memproduksi senjata nuklir. Oleh karena itu jika pihak barat berkeras akan menghentikan program nuklir “damai” Iran dengan menggunakan kekuatan militer maka Iran akan membalasnya dengan tingkat kekuatan militer yang sama.(www.republika.co.id/20032012)
Krisis ini dikhawatirkan melahirkan ketegangan baru di kawasan itu. Rencana serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir Iran dikhawatikan akan melahirkan bencana di kawasan tersebut, terlebih jika ketegangan itu berlanjut pada perang terbuka, mengingat Israel diperkirakan memiliki 250 sampai 300 hulu ledak nuklir. (www.metrotvnews.com/01042012). Akankah terjadi perang antara Iran dengan Israel? Bagaimana kaum muslimin harus bersikap?
Mencermati Kondisi Persia
Iran atau Persia adalah sebuah negara Timur Tengah yang terletak di Asia Barat Daya. Meski di dalam negeri, negara ini telah dikenal sebagai Iran sejak zaman kuno, namun hingga tahun 1935 Iran masih dipanggil Persia di dunia Barat. Pada tahun 1959, Mohammad Reza Shah Pahlavi mengumumkan bahwa kedua istilah tersebut boleh digunakan. Pada tahun 1979, sebuah Revolusi Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeini mendirikan sebuah Republik Islam teokratis.
Pasca revolusi tahun 1979 itu, Iran berkembang menjadi Negara yang dominan dan mengambil peran kunci dalam berbagai peristiwa di kawasan timur tengah. Dengan kekuatan militernya yang tumbuh pesat, Iran juga menampilkan diri sebagai Negara yang berani bersikap oposisi terhadap kebijakan Amerika dan sekutunya yang diskriminatif. Iran bahkan berani menyebut negeri paman sam itu dengan sebutan si setan besar. Suatu sikap berani yang butuh nyali besar.
Perselisihan Iran dan barat kelihatan semakin runcing disaat Iran melakukan kegiatan pengayaan uranium yang diakuinya sebagai proyek nuklir damai untuk pembangkit listrik. Namun pihak barat mengklaim proses pengolahan uranium oleh Iran tidak hanya untuk tujuan damai tapi juga untuk pengembangan senjata nuklir, oleh karena itu Amerika Serikat dan sekutunya meminta Iran menghentikan kegiatan nuklirnya. Akan tetapi Iran bersikeras melanjutkan program nuklirnya. Kondisi ini kemudian memicu ketegangan diplomatik antara Iran, Israel, Amerika dan sekutu - sekutunya.
Pada satu sisi Iran mendapat dukungan dari Negara – Negara berhaluan kiri (sosialis), seperti Rusia dan China. Di sisi lain Israel menyatakan tidak segan menggunakan kekuatan militernya untuk menghentikan program nuklir Iran sebagaimana yang direkomendasikan oleh mantan kepala intelejen mossad, Meir Dagan. Penggunaan kekuatan militer diperkirakan akan menyulut perang kawasan yang lebih luas bahkan bisa menjadi entry point terjadinya Perang Dunia III.
Meski perselisihan antara Iran dan Israel terlihat sangat sering terjadi, tapi faktanya dalam catatan sejarah tidak pernah sekalipun Iran terlibat dalam perang terbuka dengan Israel. Sejak berdiri pada 14 Mei 1948 Israel sering kali terlibat perang dengan negeri – negeri Islam di timur tengah. Perang yang besar terjadi pada tahun 1948,1967 dan 1970an, namun dalam semua peristiwa itu tidak ada sedikitpun keterlibatan Iran. Ketika Israel menyerang kamp pengungsi palestina di shabra dan shatila pada tahun 1980an juga tidak ada peranan Iran menentang Israel, pun demikian saat Israel menyerang gaza pada tahun 2008-2009 juga tiada peranan Iran untuk melawan Israel. Sehingga beberapa pengamat memperkirakam kecil kemungkinan Israel akan menyerang Iran dalam krisis kali ini.
Apalagi secara demografis ada statistik kependudukan yang mengejutkan. Ternyata Iran merupakan Negara dengan komunitas Yahudi terbesar di timur tengah, di luar Israel. Komunitas Yahudi Iran adalah komunitas yahudi tertua dengan akar sejarah yang berumur 3000 tahun. Mereka hidup nyaman sebagai kelompok masyarakat kelas menengah, bahkan mereka enggan berpindah ke Israel meski mendapat tawaran kompensasi yang besar. Di ibu kota Teheran terdapat sekitar 45 sinagog yang merupakan tempat ibadah ummat Yahudi. Ironisnya, di kota ini tidak berdiri satupun masjid yang beraliran sunni, padahal populasi sunni Iran adalah terbesar kedua setelah syiah (rafidhah).
Kondisi ini layak dicermati mengingat ada sejumlah hadits yang mengindikasikan kedekatan antara yahudi dengan Iran. Sebuah hadits Rasulullah SAW menyebutkan tentang tempat keluarnya Dajjal berada di wilayah Khurasan. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dimana Rasulullah SAW bersabda, “Dajjal akan keluar di bumi bagian Timur yang disebut Khurasan. Ia diikuti oleh beberapa kaum yang wajah mereka seperti perisai yang dipukuli.”.
Menurut Abu Fatiah Al Adnani dalam bukunya Fitnah dan Petaka Akhir Zaman, Khurasan adalah sebuah makna yang berarti tempat terbit matahari. Ia merupakan negeri yang amat luas meliputi beberapa negeri Persi, Afghanistan, dan Turkistan. Khurasan memanjang ke Asia antara sungai Amudariya sebelah utara serta Timur dan Gunung Hindukus sebelah selatan serta beberapa daerah Persi bagian Barat. Dan Khurasan yang diketahui saat ini adalah Negara Persi yang terletak di bagian Timur dan Timur Laut Iran, yang notabene penduduknya adalah Syiah.( www.eramuslim.com)
Hal senada juga disampaikan oleh DR Uman Sulaiman al Asyqar dalam kitabnya al Yaum al Akhir: al Qiyamah ash Shughra wa’ Alamat al Qiyamah al kubra, mengacu pada hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari An Nuwwas Ibn Sa’man, yang berbunyi “Sesungguhnya ia (Dajjal) muncul di suatu daerah antara Syam dan Iraq. Ia merusak ke kanan dan ke kiri. Hai Para Hamba Allah bersiteguhlah.”. Syaikh Al Bani berkata bahwa menurut Hakim sanad hadis ini shahih, dan disetujui oleh Adz Zahabi. Oleh karena itu DR Umar Sulaiman menilai bahwa Khruasan yang dimaksud adalah Persia. Yang berarti masuk teritori Iran modern.
Pendukung Dajjal sendiri adalah kaum Yahudi Asbahan yang tinggal di sebuah perkampungan Yahudiyyah. Jumlah mereka sebanyak 70.000 orang dengan memakai topi. Dari Anas bin Malik ra, sabda beliau SAW, “Dajjal akan keluar dari kota Yahudi Isfahan bersama 70,000 penduduk Isfahan”. (Fath al-Rabbani Tartib Musnad Ahmad. Ibn Hajar berkata Shahih). Isfahan (Esfahan) sendiri adalah sebuah kota bersejarah di Iran. Saat ini Isfahan adalah satu dari tiga kota di Iran yang menjadi konsentrasi yahudi Iran selain di Teheran dan shiraz.
Bahkan Abu Naim dalam kitabnya Lawami’ al Anwar Bahiyyah, seperti dikutip DR. Sulaiman menuturkan bahwa salah satu desa yang masuk dalam daerah Isfahan ada yang bernama al Yahuddiyah karena penduduknya khusus Yahudi sampai zaman Khalifah al Mahdi ibn al Manshur al Abbasi. (http://arrahmah.com)
Membaca latar belakang historis, teologis dan demografis ini, maka sesungguhnya kecil peluang terjadinya perang terbuka antara Iran vs Israel. Adapun ketegangan diplomatik yang terjadi saat ini hanyalah opera sabun, suatu proses politik untuk meningkatkan posisi tawar masing – masing pihak.
Wa’yu Siyasi
Sesungguhnya pasca lengsernya Sultan Hamid II dari jabatan Khalifah dan runtuhnya Kekhilafahan Utsmaniyyah pada 3 maret 1924 akibat konspirasi seorang Jenderal Turki keturunan Yahudi, Mustafa kemal, ummat Islam tidak lagi memiliki pemimpin yang melindungi kepentingan Islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu kaum muslimin sangat merindukan kehadiran seorang pemimpin ummat yang menjaga kemulian Islam dan kaum muslimin. Sehingga saat Iran dan Ahmadinejad menampikan diri sebagai sosok yang anti barat bahkan seakan – akan anti zionis, sebagian ummat Islam merasa mendapatkan sosok yang bisa bersama –sama berjuang menentang kedzaliman barat.
Namun patut disayangkan, pada kenyataannya Iran tidak banyak membantu perjuangan ummat Islam, bahkan terhadap mereka yang berbatasan langsung dengan negeri Islam yang terdzalimi, seperti Afghanistan, Palestina dan Irak. Pemerintah Iran lebih aktif memberi dukungan di negeri muslim jika terdapat kelompok syiah yang dominan, seperti hizbullah di Lebanon, serta kelompok – kelompok syiah di Yaman, Syiria dan Irak.
Inilah bukti penting, bahwa ummat Islam perlu memiliki wa’yu siyasi (kesadaran politik). Menurut Muhammad Ismail dalam al fikru al islami (terjemaham Indonesia : Bunga Rampai Pemikiran Islam), Kesadaran politik adalah suatu pandangan universal (mencakup seluruh dunia internasional) dengan sudut pandang yang khas,yakni sudut pandang mabda (ideology) Islam.
Dengan memiliki kesadaran politik ini, seorang muslim akan dapat memahami bagaimana ia memelihara urusannya. Orang yang memiliki kesadaran politik tidak mudah terpengaruh oleh kata – kata hebat dan berlebihan dari seorang tokoh. Dia juga berhati – hati terhadap propaganda media massa karena mampu memilih dan memilah informasi, sebagaimana yang diingatkan Allah SWT dalam firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (TQS. Al Hujurat : 6)
Dengan kesadaran politik, ummat akan paham pentingnya Islam bagi kehidupannya, termasuk pentingnya kehadiran pemimpin ummat (amirul mukminin) yang hakiki yang berjuang untuk kemulian Islam dan kaum muslimin. Seorang pemimpin yang taat pada Allah dan taat pada Rasul-Nya, pemimpin yang menegakkan syariat Allah Swt dan rasul-Nya di muka bumi, sebagaimaa firman Allah swt : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (TQS. An nisa : 59)
Untuk itu hendaknya umat tidak disibukkan dengan kegiatan dukung mendukung tokoh atau kelompok tertentu. Umat sebaiknya berjuang sekuat tenaga dalam usaha mewujudkan kehadiran seorang pemimpin ummat secara keseluruhan berikut tata aturannya (hukum syar’i), yang benar – benar akan melayani dan melindungi ummat Islam menuju Izzul Islam wal Muslimin.
Wallahu a’lam bishowab.












0 komentar:
Posting Komentar